Para Penindas yang Lantang
Para tiran yang bernama — dan tiga wajah kerusakan yang aktif
Warathah — draf untuk ditinjau. Pembacaan terhadap teks suci ditawarkan untuk perenungan dan tunduk pada verifikasi para ulama.
Sebuah tulisan pendamping dalam seri ini menelusuri para penindas tak bernama dalam Al-Qur’an — lelaki yang kebunnya tak akan pernah binasa, kaum yang menjadi nyaman, mereka yang menjadwalkan keluar kaum miskin. Itulah kemerosotan yang diam, kerusakan yang tak memerlukan musuh di gerbang. Mereka adalah cermin. Kita dimaksudkan untuk memandang ke dalamnya dan menemukan diri kita sendiri.
Tulisan ini tentang yang lain — mereka yang kita kenang dengan nama. Fir'aun, Qārūn, Hāmān. Mereka lantang di mana yang tak bernama itu diam, dan mereka mudah dikenali justru karena Al-Qur’an menghendaki mereka dikenali. Namun amati dengan saksama dan mereka bukanlah tiga raksasa jahat yang tak berhubungan. Mereka adalah tiga wajah dari satu hal: bukan ketiadaan kemampuan, melainkan kemampuan yang dipalingkan ke arah yang keliru.
Pharaoh — the apex inversion
Dosa Fir'aun bukanlah kelemahan. Ia memerintah sebuah imperium, sebuah pasukan, sebuah istana, sebuah agama negara. Kegagalannya berada di puncak struktur itu sendiri: ia mengambil puncak kekuasaan dan menjadikan dirinya objek pengabdian. “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” ia menyatakan — pusat yang seharusnya menunjuk suatu bangsa ke atas malah menunjuk mereka kepada dirinya sendiri.
Inilah pembalikan-puncak. Puncak yang sehat dari tatanan mana pun adalah suatu tempat yang mengorientasikan — ia menghimpun suatu bangsa dan menghadapkan mereka menuju sesuatu yang lebih tinggi daripada puncak itu sendiri. Fir'aun mempertahankan penghimpunan itu dan menyingkirkan hal yang lebih tinggi. Ia mengklaim puncak gunung tanpa pendakian batin yang seharusnya melayakkannya.
Tradisi punya kata yang cermat dan menakutkan untuk mekanisme di sini: istidrāj — pemanjangan tali yang perlahan, kemakmuran yang dianugerahkan kepada yang tak bertaubat agar kejatuhan mereka, ketika tiba, menjadi total. Dalam bahasa struktural di balik kerja ini, kami telah menyebut bentuk yang sama sebagai puncak palsu: sebuah pusat yang tampak seperti puncak suatu tatanan yang terpadu dan pada kenyataannya merupakan pembalikan persisnya. Segala sesuatu ada di tempatnya kecuali satu hal yang penting — ke arah mana seluruh struktur itu menghadap.
Qārūn — wealth as self
Qārūn diberi karunia yang berbeda dan merusaknya dengan cara yang sama. Miliknya bukanlah kekuasaan atas manusia melainkan kepemilikan — kekayaan yang sedemikian besar hingga kunci-kuncinya saja menjadi beban untuk dibawa. Dan ketika ia diingatkan untuk membelanjakannya sebagai amanah, jawabannya adalah salah satu kalimat yang paling diam-diam modern dalam teks suci: “Aku diberi ini karena ilmu yang ada padaku.”
Kalimat itu adalah seluruh penyakit dalam sembilan kata. Kemakmuran itu nyata; kemampuan yang menghasilkannya bahkan mungkin nyata. Tetapi sumbernya disalahbaca. Apa yang diberikan diklasifikasikan ulang sebagai diperoleh, dan apa yang dipegang dalam pengembanan dikategorikan ulang sebagai diri. Kemampuan dikosongkan dari satu hal yang membuatnya aman — pengetahuan bahwa ia tak pernah sepenuhnya menjadi milik sendiri.
Bumi menelan Qārūn dan rumahnya. Al-Qur’an berlama-lama pada kerumunan yang pagi itu telah mengirinya dan menjelang petang bersyukur bahwa mereka bukan dia. Kekayaan-sebagai-diri tidak dihukum karena ia adalah kekayaan. Ia dihancurkan karena ia telah memutuskan dirinya dari sumber yang menjadi sandarannya, dan sesuatu yang terputus dari sumbernya tidaklah bertahan.
Hāmān — the architect
Wajah ketiga adalah yang paling tak nyaman, sebab ia adalah yang paling biasa. Hāmān bukanlah sang tiran dan bukan sang konglomerat. Ia adalah pejabat yang cakap — lelaki yang Fir'aun perintahkan untuk membangun menara. Ia tidak mengangkat klaim ketuhanan apa pun dan tidak merampas harta apa pun. Ia sekadar melakukan kerja yang sangat baik dalam pelayanan kepada suatu orientasi yang rusak.
Hāmān adalah sang pemungkin, sang arsitek, sang administrator yang membuat penindasan berfungsi. Kemampuannya tulen dan mungkin, di bawah pusat yang benar, telah membangun sesuatu yang baik. Keahlian itu bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah ke arah mana keahlian itu ditunjukkan. Ia adalah pengingat bahwa ketiranian tak pernah menjadi kerja satu orang — ia memerlukan para pembangun, dan para pembangun jarang merupakan tiran. Mereka hanya sangat mahir dalam pekerjaan mereka.
The common thread
Sandingkan ketiganya berdampingan dan polanya jelas. Pada masing-masing, kemampuan itu nyata — kekuasaan yang nyata, kekayaan yang nyata, kecakapan yang nyata. Tak satu pun dari mereka gagal karena kekurangan kemampuan. Masing-masing gagal karena orientasi itu dipalingkan ke arah diri alih-alih ke arah Yang Maha Nyata.
Inilah inti mengapa para penindas yang lantang itu termasuk pada tepi siklus yang merosot. Suatu tatanan yang menanjak dan suatu tatanan yang melahap dapat tampak nyaris serupa dari luar — keduanya memiliki kekuasaan, keduanya memiliki kekayaan, keduanya memiliki orang-orang yang cakap yang membangun berbagai hal. Pada puncak, arah nyaris menjadi satu-satunya hal yang memisahkan yang integratif dari yang melahap. Palingkan pusat itu ke arah yang lebih tinggi, dan kemampuan menjadi pengembanan. Palingkan ia ke arah diri, dan kemampuan yang persis sama itu menjadi mesin kejatuhan.
Beginilah suatu bangsa mengeropos dengan lantang — bukan dengan menggerogot dalam kenyamanan, sebagaimana yang dilakukan para penindas tak bernama, melainkan dengan terisi penuh oleh dirinya sendiri: pusat yang memuja dirinya sendiri, kemakmuran yang mengkreditkan dirinya sendiri, kecakapan yang tak mengajukan pertanyaan. Keropos yang lantang dan keropos yang diam adalah dua jalan menuruni lereng yang sama.
Why this matters for the heirs
Ada sebuah jebakan yang terbangun ke dalam para penindas yang lantang, dan ia patut disebut. Sebab mereka bernama — sebab mereka jelas-jelas orang lain — mereka nyaman untuk dipelajari. Kita dapat menunjuk Fir'aun. Kita dapat menggelengkan kepala terhadap Qārūn. Kerusakan yang lebih diam dan lebih berbahaya adalah yang menjadi pokok tulisan pendamping itu: jenis yang ada dalam diri kita, yang tak bernama sebab ia tak memerlukannya.
Maka pola yang lantang itu patut dipelajari bukan agar kita dapat menemukan para Fir'aun pada orang lain, melainkan agar kita dapat mengenali bentuk-nya — puncak yang dipalingkan ke dalam, karunia yang dikira sebagai kepantasan, keahlian yang dilepas dari tujuannya — di mana pun ia muncul, termasuk dekat di rumah. Belajar membaca kemerosotan adalah sebagian besar dari untuk apa para pewaris ada, dan para penindas yang bernama adalah tempat pembacaan itu bermula: huruf-huruf besar yang jelas sebelum cetakan halusnya.
What this is — and is not
Ini adalah suatu cara membaca tokoh-tokoh Al-Qur’an — ditawarkan untuk perenungan, bukan sebagai katalog kerusakan yang tertutup atau lengkap, dan bukan sebagai sains yang tervalidasi. Tiga wajah di sini adalah tetenger, bukan taksonomi yang rampung; himpunan yang lebih lengkap adalah urusan para ulama. Kami tidak mengklaim bahwa model mana pun membuktikan teks suci. Teks suci itulah petanya; milik kami adalah tugas yang sederhana untuk belajar membacanya dengan saksama, dan mengingat bahwa penindas yang paling lantang adalah yang paling mudah dikenali dan yang paling mudah disalahsangkakan sebagai satu-satunya jenis.
— Warathah. Draf; pembacaan akan diperiksa bersama para ulama sebelum penerbitan.