Peran Para Pewaris
Apa sesungguhnya seorang pewaris itu — dan mengapa setiap zaman membutuhkan mereka lagi.
Ada satu kata yang tenang di pusat lembaga ini: warathah, para pewaris. Mudah mendengarnya lalu membayangkan suatu warisan — sebuah rumah, sebuah perpustakaan, sebuah nama untuk dijaga. Tetapi warisan yang kami maksudkan bukanlah sesuatu untuk disimpan. Ia adalah suatu amanah untuk diemban ke depan, hidup, dan dipertanggungjawabkan.
Esai ini menawarkan sebuah pembacaan tentang apa seorang pewaris itu dan apa yang dilakukan para pewaris. Ia adalah sebuah renungan struktural, bukan doktrin yang sudah mapan, dan ia dimaksudkan untuk ditimbang alih-alih sekadar diterima.
Bukan penjaga relik
Ada sebuah perkataan yang masyhur, diriwayatkan dalam koleksi Tirmidzi dan Abū Dāwūd, bahwa para ulama adalah pewaris (warathah) para nabi. Kami menerimanya dengan khidmat, dan kami menjadikannya gambaran awal kami.
Ini adalah pembacaan yang khidmat atas sebuah hadis dan tetap tunduk pada penilaian para ulama yang berkompeten.
Perhatikan apa yang tidak mungkin menjadi seorang pewaris para nabi: seorang kurator. Para nabi tidak meninggalkan benda-benda untuk dilap dan dipajang. Mereka meninggalkan sebuah orientasi — sebuah cara mengarahkan seluruh diri, dan seluruh komunitas, menuju Tuhan dan menuju apa yang benar. Mewarisi itu berarti menerima sebuah amanah yang hidup. Dan seseorang dipertanggungjawabkan atas amanah yang hidup sebagaimana ia dipertanggungjawabkan atas sebidang ladang yang ditanami: bukan karena menjaganya tetap tak tersentuh, melainkan demi pertambahannya. Seorang pewaris yang hanya memelihara telah mulai kehilangan. Amanah itu hidup; dibiarkan dalam lemari kaca, ia mati karena dilindungi.
Cahaya dahulu, lalu pelita
Inilah pembacaan yang menjadi landasan pembangunan lembaga ini, ditawarkan sebagai sebuah tesis alih-alih sebuah bukti.
Sebuah orientasi hanya tetap hidup ketika ia dibentuk — diemban oleh orang-orang yang arah batinnya sungguh-sungguh telah dibentuk menujunya. Dan orang-orang yang terbentuk itu, para pewaris berorientasi-tinggi, tidak melayang bebas. Mereka tergandeng pada bejana-bejana yang mengemban sebuah orientasi melintasi waktu: wakaf (endowmen yang mendanai dan menaungi pekerjaan baik), ḥisbah (kewajiban pengawasan moral publik), madrasah (tempat pengajaran), ijāzah (lisensi untuk mentransmisikan, rantai tak terputus dari tangan yang berkualifikasi ke tangan yang berkualifikasi).
Urutannya penting. Cahaya dahulu, lalu pelita. Tak satu pun yang mencukupi sendirian.
Seorang pewaris tanpa bejana adalah sebatang lilin di tengah angin terbuka. Pembentukannya boleh jadi nyata, tetapi tak ada yang merambat; ketika orang itu mati, cahaya pergi bersamanya. Bejana-bejana tanpa pewaris yang terbentuk lebih buruk, karena mereka tampak seperti keberhasilan. Endowmen masih membayar, sekolah masih menerima murid, sertifikat masih diterbitkan — tetapi yang kini mereka reproduksi adalah pemalsuan: bentuk tanpa ruh, pelita tanpa cahaya. Sebuah mesin untuk memproduksi penampakan warisan.
Mengapa ia harus diperbarui setiap generasi
Seandainya ini persoalan yang dapat kaupecahkan sekali, setiap pendirian besar pasti telah menyelesaikannya. Mereka tidak.
Alasan strukturalnya, sebagaimana kami membacanya, adalah bahwa generasi berikutnya cenderung menyembah pelita yang baru. Pembaruan seorang pendiri — yang sendiri merupakan suatu kembali yang nyata kepada orientasi yang hidup — mengeras menjadi hal yang seseorang puja. Bentuk yang kebetulan diambil oleh pembaruan itu menjadi suci dengan haknya sendiri. Para cucu menjaga bentuknya dan melupakan arahnya. Ini bukan keniatan jahat; ia adalah pergeseran lembaga yang biasa, dan itulah sebabnya pembaruan — tajdīd — harus menjadi tuntutan yang tetap dan bukan obat sekali pakai. Setiap generasi harus diarahkan kembali, karena setiap generasi memberhalakan kembali.
Pemalsuan, disebutkan
Sangat membantu untuk menyebut pemalsuan itu dengan terus terang, karena ia pandai menyamar.
Ia mengenakan wajah kembali-kepada-sumber. Dalam satu bentuk ia adalah literalisme: pengabdian yang garang kepada huruf yang diam-diam jatuh ke atas objek — kata-katanya, permukaan ritualnya, penanda keanggotaannya — dan kehilangan iḥsān, keunggulan dan kehadiran batin yang menjadi maksudnya. Dalam bentuk lain ia adalah sang penguasa kuat, kultus kepribadian: sebuah gerakan yang menyucikan kembali satu bentuk tunggal, sering kali satu orang tunggal, dan menyebut penyucian-kembali itu sebuah kebangkitan.
Keduanya tampak seperti pemulihan. Keduanya dapat mengutip sumber-sumber. Perbedaannya tidak berada di permukaan, dan itulah justru sebabnya sebuah uji permukaan gagal. Maka uji yang kami usulkan adalah ini: bukan apakah ia kembali kepada sumber? — siapa pun di bawah tekanan dapat memeragakan suatu kembali — melainkan apakah ia mengarahkan kembali kepada orientasi yang hidup, atau apakah ia sekadar menyucikan kembali sebuah bentuk? Sebuah pembaruan yang sejati mengarahkan komunitas kembali kepada arahnya. Sebuah pemalsuan mengarahkannya kepada objek lalu menyebut itu hal yang sama.
Apa yang sesungguhnya dilakukan para pewaris
Jika yang di atas kurang-lebih benar, pekerjaan seorang pewaris memiliki bentuk.
Para pewaris membaca di mana makna dan ikatan sedang mengering — dan mereka membacanya dini, sebelum ia mengemuka sebagai krisis yang kasat mata. Komunitas menjadi hampa secara diam-diam: kata-kata tetap ada, kehadiran tetap ada, tetapi orientasi di baliknya menipis. Seorang pewaris memerhatikan penipisan itu selagi masih ada waktu untuk memperbaikinya, lalu melakukan perbaikan itu — mengarahkan kembali orang-orang kepada untuk apa bentuk-bentuk itu ada.
Para pewaris mengemban orientasi dan membangun kembali bejana-bejana secara bersamaan, tak pernah yang satu tanpa yang lain, karena kami telah melihat apa yang dihasilkan masing-masing sendirian.
Dan pembentukan para pewaris harus melakukan sesuatu yang merendahkan hati: ia harus sungguh-sungguh membentuk dan menilai orientasi sang pewaris, tak pernah mengandaikannya. Sebuah sekolah dapat menyertifikasi ilmu. Ia tidak dapat menyertifikasi arah secara otomatis. Tugas yang paling sulit dan paling perlu adalah membentuk orientasi batin lalu menguji dengan jujur apakah ia tertanam — karena pemalsuan diproduksi justru dengan mengandaikan cahaya ada begitu pelita dinyalakan.
Apa ini — dan apa bukan
Ini adalah sebuah pembacaan struktural yang ditawarkan untuk direnungkan. Ia adalah sebuah tesis tentang bagaimana sebuah orientasi hidup, mati, dan diperbarui — bukan temuan yang tervalidasi, dan tidak ada yang di sini patut dianggap terbukti.
Pembacaan atas hadis itu disampaikan dengan khidmat dan tetap tunduk pada para ulama yang berkompeten; kami tidak mengeklaim otoritas atas teks itu. Kami tidak menuturkan dongeng zaman-keemasan: korupsi bersemayam di setiap pendirian, dan pergeseran menuju pemalsuan adalah hal yang normal, bukan kejatuhan dari suatu masa lalu yang murni. Dan ini tidak mengambil posisi mazhab mana pun — pola itu, jika ia berlaku, dimaksudkan untuk menggambarkan suatu bahaya yang lazim bagi siapa pun yang mewarisi sesuatu yang hidup lalu tergoda untuk menjaganya tetap aman alih-alih menjaganya tetap hidup.
Jika bahkan sebagian dari ini benar, maka peran para pewaris tak pernah selesai. Setiap zaman harus menemukan mereka, membentuk mereka, menguji mereka, dan menggandengkan mereka pada bejana-bejana yang layak mengemban cahaya. Lalu zaman berikutnya harus melakukannya lagi.