Pembentukan · Batin

Pelita dan cahaya

Religiositas lahiriah sedang meningkat di sebagian besar dunia Muslim. Makna sedang mengering di tempat-tempat yang sama, pada waktu yang sama. Kedua fakta ini bukanlah sebuah kontradiksi — keduanya adalah sebuah diagnosis.

Wim Van Laere · The Great Homecoming · Warathah

Di seluruh dunia Muslim — dan tidak ada komunitas yang terkecuali — ada sesuatu yang diam-diam meresahkan sedang berlangsung. Religiositas lahiriah tidak menurun; di banyak tempat ia justru meningkat. Lebih banyak masjid, lebih banyak hijab, lebih banyak sertifikasi halal, lebih banyak konferensi Islam, lebih banyak konten keagamaan daripada yang pernah diakses generasi mana pun dalam sejarah. Namun makna sedang mengering. Yang muda berdoa dan tetap merasa terombang-ambing. Simbol-simbol berlipat ganda dan hati tak tergerak. Masjid penuh dan jiwa tetap dahaga.

Sebagian besar tanggapan terhadap keadaan ini justru memperparahnya, karena salah membacanya. Tanggapan konservatif meresepkan lebih banyak bentuk — ketaatan yang lebih ketat, batas yang lebih tajam, pembelaan identitas yang lebih lantang. Tanggapan liberal meresepkan lebih sedikit bentuk — longgarkan tradisi sampai ia berhenti menyesakkan. Keduanya beranggapan bahwa persoalannya berada pada bentuk. Tidak demikian.

Bukan kegagalan dalam pengabdian

Ini bukan kegagalan dalam pengabdian, dan ia tidak akan disembuhkan sekadar dengan menyerukan lebih banyak pengabdian. Ia, pada akarnya, adalah hilangnya adab — dalam makna mendalam yang telah diajarkan seumur hidup oleh ulama Syed Muhammad Naquib al-Attas: ilmu dan kehidupan yang terlepas dari tempatnya yang benar dan tujuannya yang benar. Ketika ikatan kepada tujuan melemah, bentuk-bentuk tetap berdiri tetapi cahaya menarik diri darinya.

Makna tidak dihasilkan oleh bentuk. Ia dihasilkan oleh orientasi hati menuju Sumbernya — lalu diemban, diungkapkan, dan ditransmisikan oleh bentuk. Di mana orientasi itu berbelok, sekalipun sedikit, sekalipun tanpa disadari, menuju sesuatu yang lain — diri, kelompok, nama yang kita sandang, batas terhadap pihak lain — bentuk tetap berdiri sementara makna diam-diam meninggalkannya. Sebuah salat yang dikerjakan agar diterima dalam kelompok adalah gerak yang sama dengan salat yang dikerjakan untuk kembali; perbedaannya tak tampak dari luar dan mutlak dari dalam.

Pelita bukanlah cahaya

Zaman kita telah mewarisi naluri yang keliru: meraih pelita dan melupakan cahaya. Kita memulihkan bentuk-bentuk — busana, kosakata, identitas, arsitektur, batas antara kami dan mereka — lalu menunggu makna itu kembali. Ia tidak kembali, karena makna itu tidak pernah ada di dalam pelita.

Tidak ada satu pun dari ini yang merendahkan bentuk. Identitas, budaya, tradisi — semuanya adalah bejana: indah, perlu, diraih dengan susah payah, dan suatu kaum yang ditelanjangi darinya adalah kaum yang terbuka tak terlindungi. Tetapi sebuah bejana dimuliakan oleh apa yang diembannya, bukan oleh dipoles dan diletakkan di atas rak. Ketika identitas perlahan menjadi tujuan itu sendiri — sesuatu untuk ditegaskan, dijaga, dikenakan — ia mengeras menjadi tembok. Dan sebuah tembok, betapa pun halus dibuatnya, tak menahan air.

Sebuah tradisi dapat kehilangan maknanya dengan dua cara: dengan menjadi hampa, atau dengan runtuh ke atas bentuk-bentuknya sendiri. Keduanya kehilangan hal yang sama.

Bahaya itu harus disebut pada kedua sisi, karena masing-masing sisi biasanya hanya melihat kegagalan sisi yang lain. Sebuah tradisi dapat menjadi hampa — bentuk-bentuk dipelihara, batin mengosong lintas generasi, agama menjadi warisan yang seseorang sandang alih-alih api yang ia jaga. Atau ia dapat melakukan kebalikannya: runtuh ke atas bentuk itu sendiri, mencengkeram huruf dengan tenaga yang kian besar justru karena ruhnya sedang pergi, mengira cengkeraman yang mengencang itu sebagai kesetiaan. Keduanya adalah kehilangan yang sama yang mengenakan pakaian berbeda.

Apa yang menyusul, jika ini benar

Jika diagnosisnya benar, maka perbaikannya tidak mungkin berupa pembelaan bejana yang lebih lantang, dan tidak mungkin berupa volume yang lebih banyak dari pengabdian yang sama. Perbaikannya adalah menyalakan kembali apa yang bejana itu diciptakan untuk diembankan — mengembalikan tradisi pulang lagi, sehingga ia sekali lagi melakukan apa yang ia diciptakan untuk melakukannya: menggerakkan hati, dan mengikat suatu kaum bukan untuk menentang yang lain melainkan menuju apa yang benar.

Dan itu bukan slogan; ia adalah pekerjaan yang berbentuk dan dikenal. Ia adalah apa yang tradisi sebut ta'dīb — pembentukan: bukan penuangan informasi ke dalam kepala, melainkan pembentukan seorang manusia seutuhnya yang padanya ilmu duduk di tempatnya yang benar. Sebuah gelar mentransmisikan informasi; ia tidak, dengan sendirinya, membentuk adab. Pembentukan lebih lambat, lebih kecil, dan lebih bersifat pribadi — sebuah persahabatan, bukan sebuah kurikulum — dan ia bermula di tempat artikel ini bermula: dengan kejujuran untuk menyebut keadaan itu alih-alih memperagakan kebalikannya.

Orientasi yang dipulihkan oleh pembentukan ini bukanlah sesuatu yang asing yang harus dipasang. Ia adalah disposisi asali yang menurut tradisi diemban oleh setiap jiwa — tertutupi, terkondisikan, terbangun di sekelilingnya, tetapi tak pernah hancur. Itulah sebabnya perbaikan selalu mungkin, bagi seorang manusia dan bagi suatu kaum: yang hilang tidak pernah sumbernya, melainkan hanya pemalingan menuju sumber itu.

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا "Fitrah Allah yang Dia menciptakan manusia menurutnya." Al-Qur'an 30:30

Menyebut keadaan itu dengan jujur adalah awal dari penyembuhan. Selebihnya — memahami bagaimana makna sesungguhnya ditransmisikan dan hilang dalam keluarga, lembaga, dan komunitas, dan mempelajari kecakapan untuk memperbaikinya — adalah tentang apa selebihnya situs ini: arsitektur yang dahulu mengemban cahaya selama berabad-abad, dan para pewaris yang sedang dibentuk untuk mengembannya kembali.

Status tulisan ini

Ini adalah esai diagnostik, bukan temuan riset. Ia menyatakan pembacaan atas keadaan masa kini yang menjadi landasan pembentukan Warathah. Pembentukan itu sendiri, ketika dijalankan, akan diukur dengan jujur — sebelum dan sesudah, hasil dilaporkan sebagaimana datangnya — karena sebuah program tentang kejujuran yang menegaskan keberhasilannya sendiri akan menyangkal dirinya sendiri.