Argumen peradaban untuk sebuah attractor yang tak memudar
الإسلام والحداثة — Islam dan modernitas, dan apakah sebuah tradisi dapat menjaga arahnya tanpa terbakar habis.
Catatan: pembacaan kitab suci dan arketipal di bawah ini disajikan untuk perenungan dan tetap tunduk pada verifikasi oleh para ulama yang berkompeten.
Pertanyaan yang dihidupi
Hal itu dikatakan dengan terus terang, dan sering: “Islam tidak sejalan dengan sains dan kemajuan modern.” Tuduhan itu tidak selalu bermusuhan. Kadang ia datang dari orang-orang yang mengagumi tradisi ini namun tetap menduga bahwa ia milik zaman yang lebih awal — bahwa merangkul penyelidikan, penemuan, dan perubahan berarti meninggalkan iman, dan mempertahankan iman berarti tertinggal. Menurut gambaran ini, sebuah masyarakat pada akhirnya harus memilih: yang sakral atau yang modern, bukan keduanya.
Maka pertanyaan yang sebenarnya bukanlah “pihak mana yang menang?” Melainkan: apa yang sesungguhnya menjadi pusat organisasi sebuah peradaban — dan apakah pusat itu harus memudar?
Pembingkaian ulang struktural
Kerangka di balik institut ini — sebuah lensa sistem struktural yang kami sebut The Great Homecoming — membaca peradaban dalam istilah sebuah attractor: tujuan dalam yang terus-menerus didatangi kembali oleh sebuah masyarakat, orientasi pusat yang ke arahnya, seiring waktu, segala hal lainnya cenderung menyelaraskan diri. Hukum, lembaga, seni, persekolahan — inilah para pengusung (carriers). Attractor adalah apa yang mereka semua, betapapun tidak sempurna, sedang tuju.
Dilihat dengan cara ini, peradaban biasanya tidak mati karena pengusungnya aus. Jalan retak, pengadilan rusak, sekolah membeku — dan sebuah orientasi yang hidup membangunnya kembali. Bahaya yang lebih dalam adalah penyimpangan pengusung (carrier drift): lembaga-lembaga yang mengusung orientasi itu merosot atau menyandera diri sendiri, sementara orientasi itu sendiri tetap utuh. Lampu-lampu masih menunjuk arah yang benar; kabelnya membusuk.
Di sinilah kerangka ini menawarkan sebuah argumen struktural — dan ia harus disebut persis sebagai itu, sebuah argumen yang terbuka untuk dinilai, bukan sebuah bukti. Argumennya berbunyi: Zaman Keemasan Islam bertahan luar biasa lama, dan ketika ia merosot, ia merosot melalui penyimpangan pengusung alih-alih melalui keletihan orientasi pusatnya. Orientasi itu tidak kehabisan jalan. Lembaga-lembaga yang mengusungnyalah yang kehabisan.
Sebaliknya, kerangka ini berargumen, orientasi yang sepenuhnya sekuler cenderung mengusung kontradiksi internal — sebuah pusat yang, bila dikejar secara konsisten, akhirnya melahirkan penentangannya sendiri. Ketertiban yang ditekan sampai batasnya melahirkan tuntutan akan kebebasan; kebebasan yang ditekan sampai batasnya melahirkan tuntutan akan ketertiban; pusat itu pada akhirnya tidak dapat memegang keduanya, maka ia berosilasi. Sebuah orientasi yang terpaku pada al-Ḥaqq — Yang Nyata, Kebenaran, yang diambil sebagai hal yang ke arahnya sebuah masyarakat berorientasi — diargumenkan tidak memiliki kontradiksi yang merusak diri sendiri semacam itu, karena Yang Nyata tidak berbalik melawan diri-Nya sendiri.
Ini adalah pembacaan struktural, dan ia dapat dibantah pada setiap sendinya. Nyatakan ia sebagai undangan untuk penilaian yang jujur, bukan sebagai vonis.
Apa yang dapat menentang argumen ini
Sebuah klaim yang tidak dapat gagal tidaklah banyak nilainya. Maka penting untuk mengatakan dengan terus terang apa yang akan melemahkan klaim ini.
Klaim “ketahanan luar biasa lama” — kadang dirumuskan sebagai lebih lama daripada peradaban-peradaban yang sebanding, dalam orde berabad-abad — adalah pengamatan struktural kerangka ini, terbuka untuk ditantang, bukan fakta sejarah yang mapan. Bagaimana seseorang membatasi sebuah “peradaban,” apa yang dihitung sebagai ketahanan versus sekadar kesinambungan, dan pembanding mana yang adil, semuanya benar-benar diperdebatkan oleh para sejarawan. Jika rentang panjang itu ternyata merupakan artefak dari cara batas-batasnya ditarik, argumen ini kehilangan kekuatannya.
Demikian pula klaim bahwa al-Ḥaqq, sebagai orientasi, tidak mengandung kontradiksi yang merusak diri sendiri adalah sebuah argumen, bukan sebuah bukti. Ia akan tergoyahkan jika seseorang dapat menunjukkan sebuah ketegangan internal nyata yang dilahirkan oleh orientasi itu sendiri — bukan kegagalan pengusungnya, melainkan sebuah kontradiksi di pusatnya. Tantangan itu tetap terbuka. Posisi yang jujur adalah bahwa kerangka ini belum menutupnya; ia telah menawarkan sebuah kasus dan meminta untuk diuji.
Mengapa sains bersifat internal, bukan berlawanan
Di sinilah pertanyaan yang dihidupi itu berbalik. Jika attractor sebuah peradaban adalah Yang Nyata, maka menemukan apa yang sesungguhnya ada bukanlah saingan bagi orientasi itu — ia adalah kepatuhan kepadanya.
Tradisi ini mengusung sebuah kebiasaan yang mapan yang ia sebut tafakkur: perenungan yang terdisiplin atas tatanan ciptaan, pembacaan yang sabar atas bagaimana segala sesuatu dibuat dan bagaimana ia bekerja. Menurut pembacaan ini, sains bukanlah impor asing yang harus dibujuk agar ditoleransi oleh tradisi. Ia bersifat internal bagi sebuah orientasi menuju Yang Nyata. Sebuah umat yang diperintahkan, berulang kali, untuk memandang dan merenung — pada pergantian malam dan siang, pada pembuatan segala sesuatu — sedang diarahkan ke dalam penyelidikan, bukan menjauh darinya. Pertanyaan tentang keselarasan pun lenyap: tidak pernah ada persaingan yang dalam antara pencarian kebenaran dan sebuah tradisi yang pusatnya adalah Kebenaran.
Di sini tradisi ini juga menawarkan sebuah arketipe. Ibrāhīm — Ibrahim — dikenang sebagai orang yang menolak apa yang terbenam dan memudar. Ditunjukkan kepadanya hal-hal yang terbit lalu lenyap, ia menolak untuk mengorientasikan hidupnya pada apa pun yang sirna, dan berpaling menuju Yang Satu yang tidak sirna. Pembacaan ini disajikan untuk perenungan dan tunduk pada verifikasi para ulama. Secara struktural, itulah keseluruhan argumen dalam satu sosok: penolakan untuk berjangkar pada yang fana, dan pencarian akan orientasi yang tidak terbakar habis.
Apa implikasinya
Jika argumen ini bertahan — dan ia disajikan untuk diperiksa, bukan untuk diandaikan — maka kerja perbaikan memiliki pijakan yang kokoh. Para warathah, “para pewaris,” dibentuk untuk membangun di atas sebuah orientasi yang diargumenkan tidak memudar, dan untuk mencurahkan upaya mereka pada para pengusung, yang memang memudar: untuk membaca di mana lembaga-lembaga menyimpang dari pusat dan untuk memperbaikinya kembali ke arahnya.
Namun disiplin ini memotong ke dalam terlebih dahulu. Para pewaris tidak boleh sekadar menegaskan bahwa attractor itu tak memudar lalu beranjak. Mereka dibentuk untuk mengujinya — untuk menempatkan klaim ketahanan-lama, klaim tanpa-kontradiksi, dan pembacaan penyimpangan-pengusung di bawah pengamatan yang jujur, dan untuk mengikuti hasilnya. Sebuah tradisi yang percaya diri pada pusatnya mampu untuk diuji. Keyakinan itu tidak berarti apa-apa jika ia menolak untuk diuji.
Apa ini — dan apa yang bukan
Ini adalah sebuah argumen struktural yang disajikan untuk penilaian yang jujur — bukan sains yang tervalidasi, bukan bukti empiris, dan bukan tuntutan untuk percaya. Pembacaan atas al-Ḥaqq, tafakkur, dan arketipe Ibrāhīm disajikan untuk perenungan dan tetap tunduk pada verifikasi para ulama yang berkompeten. Klaim tentang ketahanan luar biasa dan ketiadaan kontradiksi internal adalah argumen kerangka ini dan sebuah pengamatan struktural yang terbuka untuk ditantang, bukan fakta yang mapan. Ia bersifat deskriptif, bukan polemis, dan tidak memihak golongan mana pun.